Sejarah Keraton Cirebon

Ketraton Kasepuhan

Sejarah keraton Cirebon – Keraton cirebon merupakan salah satu keraton tertua di jawa, Keraton Dalem Agung Pakungwati yang berdiri pada 1430 dan bergaya arsitektur Majapahit didirikan oleh Pangeran Cakrabuana atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Kuwu Cerbon. Bangunan purbakala keraton pakungwati kini berada di dalam komplek keraton kasepuhan. Tidak hanya Keraton kasepuhan saja, ternyata ada 4 keraton yang ada di Cirebon, yaitu (keraton Kasepuhan, Kanoman, Panembahan Cirebon, dan Kacirebonan), semuanya memiliki sejarah yang sangat menarik untuk dibahas. Kali ini Naba Nizer akan membahas Sejarah terbentuknya 4 Keraton di Cirebon.

Pengasingan Penguasa Cirebon

Sejarah dari Keraton Kasepuhan Cirebon bermula dari runtuhnya Kerajaan Cirebon pada 1666 saat masa pemerintahan Panembahan Ratu II atau Pangeran Rasmi atau pangeran Girilaya. Pada waktu itu, Pangeran Rasmi (Panembahan Ratu II) di panggil oleh Penguasa Mataram ke Surakarta. Panggilan tersebut bukan tanpa sebab. Penguasa Cirebon itu dituduh melakukan persekongkolan dengan Banten untuk menjatuhkan Mataram.

Menurut beberapa keterangan Pangeran Rasmi atau Panembahan Ratu II, mengalami sakit ketika berada di Mataram, ada yang mengatakan bahwa beliau di racun dan kemudian wafat di Surakarta satu tahun kemudian tepatnya pada 1667. Meninggalnya Panembahan Ratu II membuat kekosongan pemerintahan Cirebon. Melihat hal ini, Kerajaan Mataram mengambil alih kekuasaan di Cirebon.

Kerajaan Cirebon Terpecah Menjadi 2

Mengetahui kekuasaan Cirebon diambil alih sepihak oleh Mataram, membuat penguasa Banten yang bernama Sultan Ageng Tirtayasa marah besar. Sultan Ageng Tirtayasa mengambil tindakan untuk membebaskan putra-putra dari Panembahan Ratu II yang diasingkan oleh Mataram. Putra-putra tersebut bernama Pangeran Kartawijaya dan Pangeran Martawijaya.

Masih di tahun yang sama, setelah kedua putra dari Panembahan Ratu II dibebaskan, ternyata Pembebasan putra penguasa Cirebon itu justru memicu perdebatan tentang siapa yang berhak untuk melanjutkan kekuasaan di Kerajaan Cirebon. Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya memutuskan untuk membagi Cirebon menjadi dua kesultanan yang diberi nama berbeda.

Kesultanan tersebut yaitu Kesultanan Kanoman, dan Kesultanan Kasepuhan. Pangeran Kartawijaya yang bergelar Sultan Anom I kemudian memerintah Kesultanan Kanoman. Pangeran Martawijaya bergelar Sultan Sepuh I memimpin Kesultanan Kasepuhan. Saat itulah Sultan Sepuh I kemudian tinggal di Keraton Pakungwati yang di kemudian hari berganti namanya menjadi Keraton Kasepuhan.

Pengaruh VOC di Cirebon

Terpecahnya Kerajaan Cirebon tidak bisa dilepaskan dengan politik “devide of impera” milik VOC, ke 3 sultan di Cirebon dipaksa untuk mendukung VOC, terlebih VOC mendapat dukungan dari Mataram yang kala itu berkuasa atas cirebon. Sehingga semua bentuk politik dan lainnya harus diketahui dan VOC ikut serta. bentuk politik adu domba yang dimiliki VOC saat itu mampu membuat suasana 3 keraton cirebon tidak menentu.

Tahun 1797, sultan anom keempat, Pangeran Muhammad Khaeruddin wafat, karena sudah lanjut usia dan sakit-sakitan. Seharusnya, Pangeran Suryanegara lah yang menjadi Sultan Kanoman kelima, tetapi karena berada di pengasingan maka jatuh pilihan ke beberapa putranya.

Belanda saat itu masuk dan mendukung Pangeran Surantaka atau Pangeran Imamudin Abdul Sholeh karena dianggap lebih kooperatif dengan belanda. Tahun 1799 pecahlah perang Cirebon yang kedua, yang disebut perang santri karena kalangan kiai dan santri dimotori oleh sultan sepuh kelima Pangeran Saifudin Matangaji menggempur Belanda.

Herman Willem Daendels, yang pada tahun 1806 menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda akhirnya memulangkan Pangeran Suryanegara ke Cirebon. Sepulangnya dari pengasingan, Pangeran Suryanegara tidak kembali ke Keraton Kanoman tetapi memilih tinggal di daerah Sunyaragi dan berganti nama menjadi Pangeran Carbon Amirul Mukminin. Dan akhirnya mendirikan keraton ke 3 di Cirebon yang bernama Keraton Kacirebonan.

Keratin keempat yaitu Keraton Keprabonan terbentuk karena adanya perselisihan di Keraton Kanoman. Awal terbentuknya Keraton Kaprabonan dimulai tahun 1969 sebagai tempat untuk lebih memperdalam ilmu agama Islam dan mengamalkan ajaran Sunan Gunung Jati.

Nah Itulah mengapa saat ini terdapat 4 keraton di Cirebon, dari keempat keraton yang ada di Cirebon (Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan dan Keraton Kaprabonan). Keraton kasepuhan adalah keraton yang tertua dan terbesar di Cirebon, didirikan langsung oleh pangeran Cakrabuana pada tahun 1430-an. Keraton ini berdiri di lahan 10 hektar dan merupakan yang terbaik di antara Istana-Istana di Cirebon.

Banyak bangunan di Keraton Kasepuhan saat ini masih sangat bagus dan dirawat dengan baik, Keraton kasepuhan menjadi salah cagar budaya dan tempat wisata menarik di Cirebon. Keraton Kasepuhan berlokasi di Jl. Kasepuhan No.43, Kesepuhan, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Jika Anda  Tertarik dan penasaran akan kemegahan dan keindahan arsitektur keraton kasepuhan ini, tapi belum pernah berkunjung atau tidak tau harus naik kendaraan apa menuju kesana, Sobat bisa gunakan Layanan City Tour Cirebon di Naba Nizer, dengan paket City Tour Cirebon ini Anda akan diajak berkeliling di kota Cirebon dan mengunjungi tempat-tempat wisata di cirebon seperti Keraton kasepuhan, Cirebon Waterland, Taman Gua Sunyaragi dan masih banyak lainnya, termasuk wisata Kuliner khas Cirebon.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like